Penguatan Karakter Siswa Jadi Fokus Apel Pagi di MINU Wedoro
SIDOARJO – Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Wedoro kembali menggelar kegiatan apel pagi mingguan pada Senin, 12 Oktober 2026. Kegiatan berlangsung di lapangan indoor lantai 4 MINU Wedoro dan diikuti oleh seluruh siswa kelas 4, 5, dan 6 bersama jajaran dewan guru. Apel pagi ini menjadi salah satu sarana pembinaan karakter peserta didik, khususnya dalam menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, serta kepedulian terhadap lingkungan madrasah.
Kegiatan apel diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan *Indonesia Raya, dilanjutkan dengan *Mars Madrasah* yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh seluruh peserta. Suasana apel berlangsung tertib dan khidmat, sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme, rasa cinta terhadap madrasah, serta kebanggaan sebagai bagian dari keluarga besar MINU Wedoro.
Bertindak sebagai pembina apel, Kepala MINU Wedoro, Bapak H. Agus Malik, M.Pd., menyampaikan amanat tentang pentingnya membangun karakter positif sejak usia dini. Dalam pesannya, beliau menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan akademik semata, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, cara berbicara, sikap terhadap orang lain, kedisiplinan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Tiga Pilar Pembentukan Karakter
Dalam amanatnya, H. Agus Malik menjelaskan bahwa karakter seorang anak terbentuk melalui tiga pilar utama, yaitu keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Ketiganya memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan, sikap, serta kepribadian anak.
*1. Keluarga sebagai tempat pertama pembentukan karakter*
Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar mengenal nilai-nilai kehidupan. Kebiasaan yang dilakukan di rumah, termasuk cara berbicara, bersikap kepada orang tua, menghormati anggota keluarga, serta menyelesaikan persoalan, akan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak.
Beliau mengingatkan bahwa tutur kata yang sopan, sikap lemah lembut, dan kebiasaan positif di lingkungan keluarga perlu terus dibiasakan. Anak akan merekam dan meniru perilaku yang dilihatnya setiap hari. Sebaliknya, kebiasaan berkata kasar, bersikap tidak santun, atau melakukan kekerasan juga berisiko terbawa ke lingkungan sekolah.
Oleh karena itu, pembentukan karakter membutuhkan keteladanan dan pembiasaan yang konsisten, baik di rumah maupun di madrasah. Pendidikan karakter bukan hanya tentang memberikan nasihat, tetapi juga tentang menghadirkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
*2. Pendidikan sebagai sarana pembinaan dan pendisiplinan*
Pilar kedua adalah pendidikan, yang dijalankan melalui peran guru dan madrasah. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik, disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab.
Dalam amanatnya, Kepala Madrasah menekankan bahwa teguran, nasihat, dan sanksi pendisiplinan yang diberikan guru ketika siswa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses pendidikan. Teguran tersebut bukanlah bentuk kebencian, melainkan wujud kepedulian dan kasih sayang agar siswa menyadari kesalahannya serta tidak mengulangi perilaku yang sama.
Melalui proses pembinaan yang berkelanjutan, siswa diharapkan mampu membedakan perilaku yang benar dan salah, menerima nasihat dengan lapang dada, serta belajar bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan. Dengan demikian, nilai-nilai yang ditanamkan di madrasah dapat menjadi bekal bagi siswa hingga dewasa.
*3. Lingkungan dan pergaulan yang memengaruhi perilaku*
Pilar ketiga adalah lingkungan pergaulan. Kepala Madrasah mengingatkan bahwa teman bergaul dan lingkungan tempat anak menghabiskan waktu turut memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak.
Beliau menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap kebiasaan buruk yang dapat ditiru dari lingkungan sekitar, termasuk penggunaan umpatan, kata-kata kotor, dan ungkapan tidak pantas yang kemudian terbawa ke madrasah. Siswa diingatkan agar lebih bijak dalam memilih teman bergaul serta mengutamakan pertemanan yang mendukung kegiatan belajar dan perkembangan perilaku positif.
Pesan tersebut bukan berarti siswa harus menjauhi lingkungan sosial, melainkan harus mampu menjaga diri, menyaring pengaruh yang diterima, dan berani menghindari kebiasaan yang bertentangan dengan nilai kesopanan serta akhlakul karimah.